Ketulusan Menghafal Quran
Table of Contents
Sahabat RQ, tentunya kita senang sekarang banyak yang menghafal Al-Quran. Trend saat ini berubah. Yang tadinya menghafal Al-Quran hanya dimiliki oleh anak-anak di TPA misalnya; kini sekarang tidak sedikit dari para orang tua, polisi, TNI, para karyawan menghafal Al-Quran. Setidaknya, kita bersyukur kepada Allah atas kondisi ini.
Ada yang terasa sulit sekali menghafal Al-Quran, ada yang dimudahkan, ada juga yang terkadang mudah terkadang juga sulit. Rasa-rasa ini sudah menjadi hal biasa dari kalangan penghafal Al-Quran. Inilah yang akan menjadis salah satu ujian yang Allah berikan kepada para penghafal Al-Quran. Sebab para penghafal Al-Quran adalah orang - orang mulia. Tentu Allah akan saring dan hanya orang-orang istimewa saja yang bisa menghafal Al-Quran.
Diantara tanda-tanda ketulusan dalam menghafal Al-Quran itu adalah niat yang baik. Dengan niatan yang baik, tentu kondisinya tidak akan berubah meskipun dalam kondisi tidak serba mendukung. Katakanlah sibuk, susah membagi waktu, rindu orang tua, Hafalan tidak maju-maju, Murojaah berantakan, Tidak suka dengan guru, Lembaga Quran yang tidak sesuai harapan; kondisi itu semua tidak akan merubah proses menghafal Al-Quran bagi yang mempunyain niatan yang baik.
Orang yang tulus menghafal Al-Quran akan senantiasa menjaga niatnya dalam menghafal Al-Quran. Dunia terlalu remeh dan hina jika diharapkan balasan utama dari menghafal Al-Quran. Akan tetapi fokuskan untuk mencari Keridhaan Allah, Lillahi Ta'ala. Sebab seorang penghafal Al-Quran sangat membutuhkan 'bensin' dalam perjalanan menghafal Al-Quran.
'Bensin ketulusan' itu harus mempunya stok yang banyak dan berlimpah ruah. Sebab, jalan menghafal Al-Quran itu sangat panjang dan melelahkan. Berbelok-belok. Kadang naik dan turun tajam. Kita harus mempersiapkan segalanya.
Imam Ghazali pernah berkata,
"Aku menuntut Ilmu bukan karena Allah, tetapi ilmu tidak mau kecuali karena Allah."
Tulus takkan menemukan rasa kecewa. Tulus menghapus rasa gelisah, beban yang berat dan memperpanjang asa.
kenapa Hafidz Al-Quran adalah mulia? Karena bukan hanya kemuliaan karena Al-Qurannya saja, tetapi kemuliaan ketulusan orang menghafal Al-Quran. Waktunya, tenaganya, keringatnya, Uangnya digunakan untuk mendukung proses menghafal Al-Quran.
Jika ditengah perjalanan kita menemukan kemandekan, keputusasaan dalam menghafal Al-Quran, kita akan kecewa terhadap proses menghafal Al-Quran, jika tidak mempunyai ketulusan. Sebab, jika tulus; apapun kondisinya, kita mestinya harus berhusnudzan kepada Allah. Sebab jalan yang diberikan oleh Allah adalah jalan yang tidak akan pernah kita ketahui.
Rasa tulus dalam menghafal Al-Quran ini sangat penting sekali, jadi pupuklah dengan keikhlasan kepada Allah SWT, agar kita sampai kepada tujuanya.
_Imam Syahrobani

Posting Komentar