TAHSIN VS TAHFIDZ, mana yang harus didahulukan?
Sahabat RQ, kali ini saya repost tulisan lama. Tapi masih relevan bahkan sampai saat ini. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
................
Permasalahan ini menjadi isu perbincangan yang sangat menarik. Karena membicarakan kedua hal ini akan mengandung keberkahan jika mampu memposisikan keduanya dengan benar.
Tahfidz (Menghafal) AL-Quran sedang marak saat ini. Apalagi dengan dibantu disyiarkan oleh media, baik TV, koran, ataupun medsos. Ini membuat masyarakat bergeser kepada kesadaran akan pentingnya menghafal Al-Quran.
Namun, menurut saya ada hal yang kurang. Mereka tidak membicarakan tentang Tahsin (Memperbaiki bacaan Al-Quran) seperti membicarakan tentang Tahfidz. Padahal, tahsin adalah jalan utama menuju tahfidz. Nah ini yang kurang dalam syiarnya.
Saya sering ketemu dengan orang-orang yang ingin menghafal Al-Quran, namun dari segi tahsin masih belum benar; itu akan berimbas kepada kuat tidaknya hafalan yang dipunyai. Dan Faktanya, seseorang yang tahsinnya belum baik; hafalannya berantakan. Itu sebuah kengeringan yang sangat.
Membaca Al-Quran dengan baik dan benar menjadi syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menghafal Al-Quran, ibarat dua buah tangga. Tangga pertama adalah tahsin, sedangkan tangga kedua adalah Tahfidz. Tidak mungkin jika seseorang melewati tangga pertama dan langsung lompat ke tangga kedua, melainkan ada sesuatu yang membahayakan. Entah jatuh, keseleo, dll.
Tahsin AL-Quran juga berarti mempelajari keindahan Al-Quran. Tak perlu jauh-jauh mempelajari Ilmu Balaghah (mempelajari bahasa Al-Quran) dulu, cukup belajar Tahsin, maka kita akan temukan keindahan Al-Quran. Rasakan saja.
Oleh karena itu, semangat Tahfidz itu harus sesuai dengan semangat mempelajari Tahsin.
Hindari perasaan tidak mampu, susah, berat, terbebani, atau berbau negatif-negatif. Sudah sering kali saya katakan, itu godaan syetan. Syetan mempunyai banyak rencana dari A-Z untuk mengelabui kita untuk belajar Al-Quran, baik Tahsin dan Tahfidz.
Seperti dalam acara perkemahan yang pernah saya alami sewaktu SMA. Ketika makan berjamaah di lapangan, terdengar suara panitia menceritakan tentang bangkai, tai kotoran; sehingga kontan banyak yang mual. Bahkan ada juga yang langsung muntah dan tidak mau makan lagi. Perasaan itu semua adalah fiktif. Tidak nyata. Tetapi berakibat muncul rasa mual dan muntah.
Dalam mempelajari Al-Quran-pun sama. Rasa sulit yang menggambarkan susah, beban, berat dll itu semua adalah fiktif. Sulit itu karena belum ada niat. Berat itu karena belum dikerjakan. Beban itu karena belum bersabar.
Pandai-pandailah mencari guru Al-Quran, karena kelak itu semua akan dipertanggungjawabkan. Jika mereka salah mengajarkan, pada hakikatnya mengajarkan salah dari perkataan Allah SWT.
Jadi, Tahsin adalah tangga utama untuk Tahfidz. Adalah kelelahan berlarut-larut jika kita ngotot tahfidz tanpa mempelajari juga tahsin.
Imsyah Rabbani
11 September 2017

Posting Komentar